Friday, March 27, 2009

Logika Perhitungan Waktu Terhadap Bioritmik Manusia

Tulisan saya di bawah ini mencoba untuk melogikakan secara garis besar tentang perhitungan waktu kuno terhadap perubahan bioritmik manusia dan alam, misalnya perhitungan Bazi (China), Pranata mangsa, Weton (Jawa), Horoskop/ Astrologi barat, dan sebagainya .

Sebagian dari kita tidak mempercayai tentang perhitungan waktu tersebut , sebagian mempercayainya secara fanatik, sebagian mempercayainya dengan term dan kondisi tertentu. Jika sebagian mengatakan klenik, tahayul, sebagian mengatakan ilmiah, untuk sebelum menilai hal tersebut bisa membaca tulisan saya dibawah ini.

Bangsa-bangsa tua di dunia mempunyai teknik sendiri-sendiri, untuk meraba fenomena alam akibat perubahan waktu, terdapat suatu pola mencatatnya sehingga dibuat suatu konsep. Di Yunani ada perhitungan astrologi horoskop ,di India ada MahaKala Cakra, di China ada BaZi (:pak ce’), Tongshu, di Jawa ada Petangan/petungan : Pranata mangsa, Weton,dsb.

Konsep-konsep perhitungan ini dibuat untuk suatu tujuan tertentu, awalnya mengingat dan memperhitungkan masa tanam, kemudian berkembang untuk mengetahui karakter manusia, mengetahui waktu baik bepergian, dll.

Memang ada suatu pandangan bahwa tidak ada hari yang jelek,semua hari baik. Pandangan itu benar sekali, jika kita tahu memanfaatkan atau memanipulasi potensi diri terhadap perubahan waktu.
Secara logika dasar begini:

Bumi, planet, matahari atau bintang mempunyai daya magnetis sendiri-sendiri. Masing-masing mempunyai kekuatan dan jenis energi yang berbeda dan bisa saling mempengaruhi , termnasuk apa saja yang di dalamnya.

Ketika Bumi berputar selama 24 jam, dan setahun mengitari Matahari akan mempengaruhi isi Bumi termasuk mahkluknya akibat energi dan perubahannya tadi, sehingga mengakibatkan beberapa fenomena tertentu. Contohnya suasana dan kondisi pada waktu siang, malam dan pagi tentu berbeda, demikian juga kondisi fisik, psikis manusia juga akan terpengaruh.

Pengaruh itu bisa berupa karakter manusia dan bioritmik manusia.

Mengapa karakter manusia secara mendasar dapat ditentukan. Ketika manusia lahir, tentu ada perbedaan potensial. Yakni energi pelepasan dari rahim, dan energi-energi luar yang mempengaruhinya. Sehingga lahirnya manusia diibaratkan mencetak benda. Pada suatu waktu tertentu, titik tertentu, cetakannya berbeda-beda akibat pengaruh-pengaruh eksternal tadi. Belum lagi faktor genetika manusia dan lingkungan sangat mempengaruhi kualitas cetakan tersebut. Cetakan yang sudah jadi tadi selama mengarungi waktu, akan terpengaruh juga, itulah yang dimaksud bioritmik manusia.

Orang-orang dahulu mengamati dan mencatat perubahan tersebut, terhadap ribuan bahkan jutaan responden, selama ribuan tahun, sehingga berupa data statistik setelah diamati ada suatu pola tertentu, yang akhirnya disusunlah suatu konsep.

Di Yunani ada astrologi barat, yang membagi manusia menjadi 12 bulan menjadi 12 karakter (sesuai revolusi bumi terhadap matahari) yang akhirnya disebut sebagai bintang (Pisces, Leo, Virgo dsb). Baru-baru ini diketemukan planet baru di tata surya kita sehingga akan dibuat teori bintang astrologi baru.

Di China ada kalender Xia telah disusun 3.000 thn SM, di mana mendasari perhitungan Ba Zi (8 karakter/huruf kelahiran manusia : 2 huruf Tahun, 2 huruf bulan , 2 huruf hari dan 2 huruf jam kelahiran) . Pada tanggal dan jam kelahiran tertentu dapat dilihat karakter /sifat dasar manusia, dan keberuntungan/bioritmik manusia selama kurun waktu tertentu.

Di China ada istilah keberuntungan langit, keberuntungan bumi, keberuntungan manusia.
Keberuntungan langit adalah keberuntungan yang kita bawa ketika kita lahir misalnya : kapan kita lahir, siapa orang tua kita, bagaimana kondisi kita : apakah fisiknya sempurna, cacat, ataukah warna kulit kita (suku bangsa apa). Itu semua bawaan lahir/takdir yang tidak bisa kita rubah.

Keberuntungan bumi adalah keberuntungan di mana kita tinggal, lingkungan kita, misalnya apakah di pulau Jawa, Amerika, atau Arab. Tentu memiliki nilai keberuntungan sendiri-sendiri. Juga kondisi tanah, apakah terjal, kering, dekat pantai , lingkungan kumuh tentu memilki nilai keberuntungan sendiri. Inilah yang mendasari ilmu Fengshui.

Keberuntungan Manusia : adalah keberuntungan yang digali dan diusahakan oleh si manusianya sendiri. Misalnya : ilmu pengetahuan, ibadah, kerja-keras, budi pekerti, amal perbuatan baik kita. Jika kita bisa memaksimalkan keberuntungan manusia terutama dalam hal ibadah, sedikit demi sedikit mengangkat keberuntungan-keberuntungan yang lain (dari riset dan survei saya).

Ibarat mobil , waktu kita lahir kita diberi jenis mobil apa : jeep-kah, sedan-kah, truk- kah . Kemudian perjalanan hidup diibaratkan jalan yang hendak dilalui, apakah jalanan berbatu atau jalan tol. Masih ada satu unsur lagi : pengendara mobil itu sendiri,yang bisa jadi penentu keberhasilan sesorang mencapai tujuan/ akhir perjalanan. Misal ada orang yang mendapat mobil sedan sport, dapat jalan tol (artinya potensi, bakat nya bagus, kesempatan dan perjalanan hidupnya bagus) tapi ketika mengendarai mobil tidak berhati-hati, akan terjadi kecelakaan sehingga tidak sampai tujuan. Sedangkan jika seseorang dapat mobil jelek, tapi dia “kreatif” untuk memodifikasi mobil tersebut, ketika dia melalui jalan jelek, dia berhati-hati sehingga sampai tujuan.

Demikian gambaran perhitungan waktu menurut ilmu Tiongkok kuno. Untuk lebih jelasnya mungkin Suhu Tan bisa menambahi dan menjelaskan lagi.

Di Jawa sendiri ada perhitungan waktu: PETUNGAN/PETANGAN. Sama sperti ulasan tadi, awalnya leluhur kita mengamati pengaruh waktu terhadap perubahan alam, terdapat pola dan disusunlah konsep. Cara pengamatan bisa melaui yang kelihatan: alam sekitar, letak perbintangan maupun yang lain.

Perhitungan waktu di Jawa sebenarnya sudah ada ribuan tahun SM, tetapi tidak dicatat, melainkan disampaikan secara turun temurun. Hingga huruf Jawa ditemukan sekitar 78 M, atau tahun 1 Saka, maka awal itulah perhitungan Jawa dimulai.

Di Jawa ada Pranata Mangsa, adalah produk asli orang Jawa, yang keakuratannya teruji. Satu tahun dibagi 12 waktu, disitu dapat dilihat kapan waktu tanam, kapan musim hujan, kapan musim kemarau, kapan hewan-hewan ber-reproduksi, dll. Ada pola 5 thn, 10thn, 100 thn dan seterusnya. Sehingga dapat diprediksi adanya pergerakan alam misal: bencana alam.

Pada masa kerajaan waktu Islam, ada penyelarasan antara perhitungan Kalamangsa, Tahun Saka (Hindu) dan Tahun Hijriah, sehingga oleh Sultan Agung Raja Mataram yg besar, jenius dan hebat menyusunnya menjadi kalender Jawa (tahun Jawa) yang dipakai untuk perhitungan waktu wilayah kerajaan Mataram untuk menentukan waktu tanam, acara-acara ritual keraton, dll.

Dari pengamatan dan riset saya, di pedesaan-pedesaan yang masih menggunakan "Petungan" untuk menanam padi atau berkebun, mereka bisa tahu kapan siklus hama datang, kapan masa tanam bagus. Hasilnya mereka selalu bisa menghindari gagal panen akibat hama, cuaca dsb. Mereka patuh untuk tidak memaksakan target panen lebih dari sekali setahun.

Di jaman modern ini kendala-kendala hama mungkin bisa diatasi dengan obat anti hama, tapi bisa berakibat rusaknya ekosistem. Tuhan menciptakan siklus ekosistem, ada hama, ada predator dan seterusnya, kalau dikelola secara alami, alam terkendali dan selaras.

Demikian sekilas uraian saya mengenai perhitungan waktu yang mungkin masih belum jelas dan lengkap. Mohon masukan dari rekan-rekan.

Saya berharap kita tidak buru-buru menjustifikasi perhitungan-perhitungan kuno tersebut klenik, tahayul tapi baiknya kita kenali dan selidiki dulu. Konon negara Amerika yang super-power pun, ada departemen metafisika dalam gedung putih yang menentukan pergerakan politik yang akan dilakukan USA.

No comments: